Jepang dikenal sebagai salah satu negara maju dengan teknologi yang sangat canggih, industri yang kuat, serta perusahaan-perusahaan besar yang tersebar di berbagai bidang. Namun, di balik kemajuan tersebut, Jepang sedang menghadapi persoalan yang cukup serius, yaitu kekurangan sumber daya manusia (SDM), terutama tenaga kerja usia produktif. Banyak perusahaan di Jepang kesulitan mendapatkan pekerja untuk mengisi berbagai posisi, mulai dari sektor manufaktur, konstruksi, perawatan lansia, restoran, hingga bidang teknologi. Kondisi ini bukan terjadi secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari perubahan demografi Jepang yang berlangsung selama puluhan tahun.
Beberapa alasan mengapa Jepang mengalami kekurangan SDM antara lain:
1. Jumlah penduduk terus menurun. Jepang mengalami penurunan jumlah penduduk selama bertahun-tahun. Berdasarkan data pemerintah Jepang, jumlah penduduk Jepang pada Oktober 2025 sekitar 123,05 juta orang, turun sekitar 3,1 juta dibandingkan tahun 2020. Penurunan jumlah penduduk secara langsung membuat jumlah calon tenaga kerja baru semakin sedikit.
2. Penduduk Jepang semakin menua. Salah satu masalah terbesar Jepang adalah tingginya jumlah penduduk lanjut usia. Banyak orang yang sebelumnya berada dalam usia kerja kini sudah memasuki masa pensiun. Pada 2025, penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 36,19 juta orang atau 29,4 persen dari total populasi, sebuah angka yang sangat tinggi.
3. Angka kelahiran rendah. Jumlah anak dan generasi muda Jepang semakin sedikit. Artinya, jumlah orang yang nantinya masuk ke dunia kerja juga semakin kecil. Pada Januari 2026, jumlah penduduk Jepang berusia 15–64 tahun sekitar 73,41 juta, dan angka tersebut masih mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
4. Banyak pekerjaan membutuhkan tenaga langsung. Tidak semua pekerjaan dapat digantikan dengan robot atau kecerdasan buatan. Sektor seperti perawatan lansia, konstruksi, transportasi, restoran, dan beberapa pekerjaan manufaktur tetap membutuhkan manusia. Ketika jumlah pekerja berkurang, kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor tersebut menjadi semakin sulit dipenuhi.
Jika melihat data, masalah kekurangan SDM Jepang memang cukup nyata. Pemerintah Jepang mencatat bahwa penduduk usia produktif 15–64 tahun pada Januari 2026 berjumlah sekitar 73,41 juta orang, sedangkan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 36,19 juta. Pada saat yang sama, jumlah penduduk Jepang secara keseluruhan terus menyusut. Menariknya, Jepang juga semakin banyak memanfaatkan tenaga kerja asing untuk membantu mengatasi persoalan tersebut. Pada Oktober 2025, jumlah pekerja asing di Jepang mencapai 2.571.037 orang, meningkat 11,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sejak pencatatan sistem tersebut dimulai. Data tersebut menunjukkan bahwa Jepang tidak hanya menghadapi persoalan kurangnya pekerja saat ini, tetapi juga menghadapi tantangan demografi jangka panjang. Pemerintah dan perusahaan Jepang kemudian berusaha mengatasinya melalui peningkatan penggunaan teknologi, mendorong perempuan dan lansia untuk tetap bekerja, serta membuka lebih banyak kesempatan bagi tenaga kerja asing.
Pada akhirnya, kekurangan SDM di Jepang bukan sekadar masalah jumlah pekerja, melainkan dampak dari perubahan struktur penduduk. Selama jumlah kelahiran tetap rendah dan jumlah penduduk lanjut usia terus besar, kebutuhan tenaga kerja akan menjadi tantangan penting bagi Jepang. Karena itu, teknologi dan tenaga kerja asing kemungkinan akan semakin memiliki peran penting dalam menjaga perekonomian Jepang tetap berjalan.